Kumpulan artikel dan puisi dari Sukma Abadi, seseorang yang ingin mengembangkan potensinya dalam bidang kepenulisan. Semoga bermanfaat.
Wednesday, September 28, 2011
Persaudaraan Di Atas Gerobak
Friday, August 5, 2011
(Sekali Lagi) Jangan Sepelekan Do'a
“Anak bungsu saya umurnya baru 5 tahun. Asma namanya. Suatu hari, saya menjelaskan tentang penulisan kata ‘dua’ kepadanya karena ia menuliskannya dengan ‘duwa’ untuk menuliskan angka ‘2’. Ketika saya membetulkannya, ia tetap ngotot dengan pendapatnya. Dengan berbagai cara saya berusaha meyakinkannya, tapi tetap saja dia tidak terima. Akhirnya saya berfikir, biarlah dia mengerti pada waktunya. Hanya Allah yang bisa mengubahnya. Hal itu pun saya bawa dalam do’a saya.”
Petikan cerita di atas dituturkan oleh Emmy Soekresno, S.Pd. saat menjadi pembicara pada kegiatan “Pelatihan Menjadi Guru yang Kreatif dan Menyenangkan” yang diadakan oleh Yayasan Al-Mujawwad, Pondokcina, Depok bulan Juli lalu. Pada salah satu bagian paparannya, beliau menegaskan bahwa do’a adalah tulang punggung keberhasilan kita dalam mendidik anak-anak kita, baik dalam kedudukan kita sebagai orangtua ketika mendidik anak, ataupun sebagau guru ketika mendidik siswa(i) kita. Petikan kisah di atas adalah salah satu contohnya. Itu adalah pengalaman beliau sendiri.
“Keesokan harinya”, lanjut Emmy mengisahkan tentang anaknya, “Sepulang sekolah, Asma menghampiri saya dan mengatakan bahwa dia sudah mengerti bahwa angka ‘2’ ditulis dengan ‘dua’ dan dia pun setuju. Ketika saya tanyakan bagaimana dia bisa mengerti tentang hal itu, dia mengatakan bahwa tiba-tiba saja ia mengerti”. “Dalam hati, saya berpikir, ternyata Allah sudah mengabulkan do’a saya”, menutup ceritanya.
Saturday, July 9, 2011
Hilmi jadi Galak
Kemarin, Hilmi meninju perut Fathir, anak Bu Murni, salah seorang guru yang mengajar di PAUD Syakura Kids. Sebenarnya, Hilmi tidak bisa disalahkan. Diantara anak-anak peserta “pelatihan pendidikan anak” yang diadakan di PAUD Syakura Kids kemarin, Fathirlah yang selalu mengganggu anak-anak yang lain, terutama Tsaqib, anak Bu Atik, guru PAUD yang lain. Kadang-kadang Tsaqib bisa membela diri, tapi lebih sering tidak berdaya, hingga ada luka bekas cakaran Fathir di bagian bawah mata kanannya. Kasihan melihat Tsaqib diperlakukan sedemikian rupa, Hilmi menghampiri Fathir dan langsung menghadiahinya sebuah pukulan.
Sewaktu pulang ke Makassar bulan Mei lalu, keluarga di Makassar heran melihat perubahan pada Hilmi. Hilmi yang dulu pemalu telah berubah menjadi Hilmi yang pemarah. Hilmi yang kalem telah menjelma menjadi Hilmi yang galak.
Kapan Hilmi mulai jadi galak? Sampai dengan tiga bulan lalu, Hilmi masihlah seorang anak yang kalem dan pemalu. Kalau dia diganggu oleh temannya di sekolah atau di tempat mengaji, dia diam saja. Pecinya dilepas, ia diam saja. Tangannya ditarik-tarik, ia hanya menepis tangan temannya kemudian duduk lagi. Hingga suatu saat, Hilmi diajak nonton oleh Rajef, teman barunya yang juga tetangga baru kami. Ternyata yang mereka tonton adalah film kartun Naruto. Sejak saat itu, Hilmi berubah. Dia tidak lagi diam kalau diganggu. Sayangnya, perubahannya tidak sampai di situ. Hilmi menjadi mudah marah. Sedikit saja diganggu, dia langsung bereaksi keras. Hilmi pernah memegang kerah baju anak yang mengganggunya. Dia juga pernah temanya dengan sebilah kayu gara-gara dicolek.
Main, main, dan main
Tiga bulan belakangan ini Nadya dan Hilmi keranjingan main. Pulang sekolah, main. Pulang ngaji, main. Apalagi kalau libur, bisa main seharian. Tidur siangnya tidak tenang karena khawatir bangun menjelang maghrib, sehingga tidak sempat lagi main. Bahkan, kadang-kadang Nadya tidur malam lebih cepat dari biasanya karena berharap esoknya bisa bangun lebih awal, sehingga waktu mainnya lebih lama.
